Skip to main content

Hitachi

Social Innovation

Wawasan AI/Analitik

Membangun Infrastruktur Pengisian EV Melalui Kemitraan dan Kolaborasi

Emisi dari transportasi jalan menyumbang setidaknya 12% dari total emisi gas rumah kaca global.(1) Saat negara beralih dari ketergantungan akan bahan bakar fosil ke bauran energi yang lebih berkelanjutan, EV (Electric Vehicle) dipandang sebagai cara yang efektif untuk mengenalkan infrastruktur transportasi jalan berbasis listrik yang didukung oleh bauran energi untuk listrik yang tersedia di setiap tahap transisi, namun demikian ada banyak tantangan yang harus diatasi.(2)

Di dalam artikel ini, kami berfokus pada ekosistem EV Singapura yang sedang berkembang. ALEX LIN dari NTUitive and Action Community for Entrepreneurship (ACE) diundang untuk menjadi moderator diskusi dengan topik tantangan terkini dalam adopsi EV, dan apa yang dapat dilakukan melalui kolaborasi dan upaya kolektif oleh para pemangku kepentingan dalam ekosistem. Dipandu oleh Lounell GUETA, Chief Researcher di Hitachi Asia Singapore R&D, mereka bergabung bersama Paul Welsford dari Electric Vehicle Association of Singapore (EVAS), Chee Kiong GOH dari Charge+, Nirupa CHANDER dari Hitachi Energy, dan Mark Tan dari Land Transport Authority (LTA), Singapura.

(Opini dan pandangan yang diungkapkan oleh para peserta dalam artikel ini adalah opini dan pandangan mereka sendiri dan tidak mewakili pandangan organisasi mereka.)

Diterbitkan pada 24 Desember 2021

 

Menumbuhkan Ekosistem EV yang Bergairah di Singapura

Sesuatu yang menjadi perhatian saya adalah hasil Konferensi Perubahan Iklim PBB ke-26 (COP26) yang diselenggarakan di Glasgow bulan lalu. Ada banyak diskusi seputar pengukuran, standarisasi, dan verifikasi – yang merupakan tantangan konstan dengan mesin pembakaran internal. Teknologi EV memungkinkan standarisasi karena semua informasi berasal dari komputer.

Salah satu masalah pasti yang memperlambat adopsi EV adalah pengisian. Sebagian besar dari kita tinggal di gedung tinggi di mana titik pengisian daya tidak tersedia. Banyak orang akan meminta pemerintah untuk menyiapkan infrastruktur pengisian dan mengoperasikan stasiun pengisian.

 

Mark, apa pandangan Anda mengenai situasi EV di Singapura beserta situasi pengisiannya?

Alex
Moderator


Mark

Dibandingkan dengan kendaraan mesin pembakaran internal (internal combustion engines/ICE), EV mengurangi emisi hampir setengahnya, dan sebagai bagian dari Rencana Hijau Singapura 2030 (Singapore Green Plan 2030), kami mendorong adanya EV. Untuk mendorong pengemudi beralih ke EV, kami meningkatkan keterjangkauan mobil EV dengan memberikan insentif pembelian kendaraan EV melalui potongan pajak dan penyesuaian pajak jalan untuk EV, dan juga mengembangkan infrastruktur pengisian daya kami.

Infrastruktur pengisian menjadi permasalahan yang dilematis; Anda membutuhkan lebih banyak pengisi daya untuk mendorong orang beralih ke EV, akan tetapi operator pengisian EV akan membutuhkan lebih banyak orang untuk membeli EV guna memperluas jaringan pengisi daya mereka. Untungnya, momentum untuk EV meningkat dengan angka adopsi baru-baru ini (% EV dalam pendaftaran mobil baru) mencapai 3 atau 4 kali lebih tinggi dibandingkan tahun kemarin. LTA meluncurkan berbagai inisiatif, seperti penghargaan tender percontohan pengisian EV pertama dengan URA untuk lebih dari 600 titik pengisian di 200 tempat parkir dan peluncuran EV Common Charger Grant pada bulan Juli, untuk mendorong properti pribadi yang tidak memiliki lahan seperti kondominium dan apartemen, untuk menyebarkan pengisi daya mengingat sebagian besar pengadopsi awal EV tinggal di sana.

Kami juga membuat rencana untuk memasang pengisi daya di tempat parkir perumahan umum, yang dikenal sebagai Housing and Development Board (HDB), di mana sekitar 85% dari populasi kami tinggal. Kita perlu mengambil pendekatan yang sesuai untuk penerapan yang melacak adopsi EV dengan cermat – sebelum permintaan untuk mendorong adopsi EV – tetapi tidak terlalu cepat untuk memenuhi pasar dengan pengisi daya sehingga operator merugi.

Alex

Nirupa, apa pendapat Anda mengenai situasi EV, khususnya grid dan kerangka pengisian?


Nirupa

Pengumuman Singapura dalam Rencana Hijau sangat penting untuk memulai evolusi EV. Saya yakin bahwa ini akan membantu adopsi EV dan pengembangan infrastruktur. Saya membaca kecemasan orang-orang dalam mengadopsi kendaraan listrik, yang pertama adalah apakah charge-nya akan cukup untuk mencapai tujuan mereka dan kecemasan mengenai jangkauan jarak yang dapat ditempuh. Kecemasan yang kedua adalah ketersediaan stasiun pengisian.

LTA, Singapore Power, dan Energy Market Authority perlu bersatu untuk menerapkan standar dan kerangka pasar yang tepat untuk model komersial dan bisnis agar berhasil menerapkan infrastruktur EV. Sebagai penyedia teknologi, teknologi bukan menjadi batasan lagi – dan lebih banyak inovasi perlu terus dilakukan di bidang pengisian daya EV.

 

Tantangan untuk Menerapkan Infrastruktur Pengisian Daya

Hal ini termasuk mengenai mengubah kebiasaan manusia. Penyedia layanan dapat menggunakan teknologi dan AI untuk membantu pengemudi.

 

 

Chee Kiong, apakah hal tersebut merupakan sesuatu yang Anda pertimbangkan?

Alex
Moderator

 


Chee Kiong

Saya akan menggambarkan adopsi EV sebagai satu hal yang didorong oleh empat faktor: yang pertama adalah biaya EV, yang mana lebih tinggi daripada mobil bermesin konvensional. Jika Anda menjalankan armada van di Singapura, sekarang tidak perlu repot untuk beralih dari armada mesin pembakaran ke armada listrik karena potongan harga yang diberikan oleh LTA.

Faktor kunci kedua adalah kecemasan terhadap jarak yang dapat ditempuh oleh EV. Kabar baiknya, EV mengalami peningkatan dan menempuh jarak lebih jauh. Saat ini, jangkauan rata-rata EV adalah sekitar 400 hingga 500 km. Kecemasan terhadap jarak yang dapat ditempuh oleh EV tampak dirasakan oleh banyak konsumen, mereka khawatir tentang seberapa jauh dapat melakukan perjalanan dalam satu kali pengisian daya.

Faktor kunci ketigaadalah waktu pengisian. Dalam hal penetapan arah kebijakan dan perubahan pola pikir, SPBU menjadi paradigma saat ini. Perjalanan mobil konvensional ke SPBU, keluar masuk, akan memakan waktu sekitar 5-10 menit. Namun tidak akan terjadi jika Anda memiliki EV. LTA telah mengatakan bahwa kita harus memperlakukan pengisian daya EV mirip dengan pengisian daya laptop; yaitu selama beberapa jam tergantung pada kelancaran pengisian. Perubahan pola pikir sangat penting untuk mengatasi hambatan mental seperti perubahan yang cepat di SPBU dan mengubah paradigma.

Faktor kunci keempat adalah ketersediaan stasiun pengisian daya, di situlah Charge+ muncul. LTA mendorong operator seperti Charge+ untuk mengoperasikan stasiun pengisian di seluruh Singapura. Ketersediaan stasiun pengisian secara visual akan meyakinkan masyarakat bahwa mereka tidak akan pernah kehabisan listrik di jalan atau khawatir tentang di mana stasiun pengisian terdekat.

 

 

 

Meningkatkan adopsi EV dan mengatasi pola pikir

 

Paul, tolong bagikan pandangan dari sisi industri, apa yang Anda lihat dalam pengembangan, dan bagaimana kita dapat meningkatkan adopsi EV di Singapura?

Alex
Moderator


Paul

Rasanya Singapura merupakan negara yang ideal untuk mengadopsi EV dilihat dari ukurannya. Begitu terharu untuk melihat ini, dan kesadaran adalah bagian besar dari itu. Ungkapan yang sering muncul itu dilematis, mana yang sebab atau akibatnya. Padahal ini lebih kepada efek bola salju; saat Anda menerapkan pengisian EV, ini memberi orang pemahaman, kesadaran, kenyamanan, yang kemudahan akan membuat mereka memakai EV. Ketika industri melihat lebih banyak EV di jalan, kebutuhan stasiun pengisian meningkat – mereka harus saling melengkapi.

Bagian yang sulit adalah membuat bola salju itu bergulir. Pola pikir adalah salah satu hal yang paling sulit untuk diubah. Karena itulah Electric Vehicle Association of Singapore (EVAS) merilis panduan EV awal tahun ini. Gagasannya adalah untuk mencoba dan meruntuhkan beberapa hambatan bagi orang-orang dan memungkinkan mereka untuk membuat keputusan yang tepat.

Kami berusaha mendukung industri serta semua anggota asosiasi EV. Dan kami senang melihat lebih banyak orang bergabung dengan kami dan grup sosial kami. Kami berharap dapat segera mengadakan lebih banyak acara dan terus berbagi informasi untuk membantu meruntuhkan penghalang.

Alex

Kita akan berpindah ke Lounell. Dalam perspektif Anda, tentang topik EV dan pengisian daya, apakah ada teknologi yang berpotensi membantu mendorong adopsi EV?


Lounell

Pertama-tama, kita perlu mengetahui bagaimana adopsi EV berjalan, bagaimana pemangku kepentingan berjalan, dan bahkan dengan insentif pemerintah, berapa lama insentif itu dapat dipertahankan dan mengubah pola pikir pelanggan. Terkadang, sinyal ini tidak terlihat jelas. Jadi, kita perlu melihat beberapa faktor dalam teknologi, ekonomi, dan masyarakat – di antara aspek lainnya. AI dan analitik data dapat memainkan peran penting dalam mengumpulkan sinyal ini untuk memprosesnya, mengestrak wawasan, dan akhirnya mendapatkan dukungan politik untuk teknologi dan inisiatif pemerintah.

Mengenai ketersedian jaringan pengisian daya, Anda tidak ingin memiliki terlalu sedikit atau terlalu banyak titik pengisian karena alasan ekonomi dan teknis. Oleh karena itu, diperlukan optimalisasi lokasi titik pengisian dengan mempertimbangkan ukuran stasiun yang tepat sesuai dengan permintaan pengisian.

Adopsi EV juga akan dipercepat dengan pengembangan dan penyebaran teknologi pelengkap seperti memajukan teknologi V2X yang meningkatkan kecerdasan kendaraan, misalnya, dengan memilih transportasi yang lebih aman dan nyaman serta menerapkan pengisian daya pintar untuk mengelola penggunaan energi secara lebih efisien. Terlebih lagi, baru-baru ini ada komitmen yang diintensifkan dengan urgensi untuk mengurangi emisi, seperti yang terlihat dalam COP26. Maka dari itu, solusi penyimpanan energi baterai, yang memenuhi permintaan energi yang berasal dari EV, seharusnya tidak hanya menyediakan sarana untuk stabilitas jaringan yang lebih besar tetapi, yang lebih penting, fleksibilitas untuk memilih sumber energi terbarukan.

 

 

Adopsi EV dan Lisensi Sosial

 

Jika seseorang dapat melihat bahwa dia dapat menghemat lebih banyak, lebih mungkin baginya untuk memilih EV.
Bagaimana jika kita memiliki stasiun pengisian yang cukup, dan adopsinya masih belum ideal?

Alex
Moderator


Mark

Saya kira itu kembali pada empat faktor yang baru saja Chee Kiong ungkapkan; biaya, kecemasan yang dirasakan terhadap jarak yang dapat ditempuh, waktu pengisian dan ketersediaan pengisi daya. Apakah kita melakukan cukup atau ada cukup momentum di mana masalah terselesaikan secara alami? Anda dapat mengontrol beberapa faktor dan beberapa faktor lainnya tidak dapat, seperti penurunan harga baterai, dan model EV dari produsen mobil. Pabrikan mobil mengeluarkan 300-400 model dalam tiga hingga empat tahun ke depan. Hal tersebut yang akan mengubah permainan.

Saya pikir perubahan perilaku dan pola pikir manusia akan membutuhkan waktu untuk berubah – dan terkadang, orang tidak mau berubah. Namun pada akhirnya, saya meyakini orang akan berbalik ketika itu mempengaruhi dompet mereka dan melihat EV lebih masuk akal secara finansial. Dalam jangka panjang, akan sulit untuk melihat populasi umum tidak beralih. Akan ada masa ketika ICE, hybrid, dan EV bisa hidup berdampingan untuk waktu yang lama, tetapi seleksi alam pun akan terjadi.

Alex

Lalu, bagaimana dengan pandangan penyedia layanan? Nirupa, bagaimana menurut Anda?


Nirupa

Menurut saya, adopsi EV adalah bagian dari lisensi sosial saat kami bergerak maju. Dalam hal tantangan, infrastruktur adalah tempat yang membutuhkan investasi lebih lanjut. Jaringan listrik dirancang 100 tahun yang lalu tanpa mempertimbangkan pengaturan yang terdesentralisasi. Momentum untuk menyebarkan infrastruktur pengisian sekarang akan berada di tingkat distribusi jaringan, yang tidak setara dengan kerangka kerja asli dan desain jaringan listrik terpusat. Hal ini membutuhkan perombakan kerangka peraturan untuk operator pasar listrik. Untuk utilitas seperti Singapore Power, mereka membutuhkan model bisnis baru yang membutuhkan lebih banyak inovasi dalam teknologi B2B, jadi ada banyak pekerjaan untuk mengembangkan industri ini lebih lanjut dan untuk meningkatkan adopsi.

LTA memiliki visi yang baik untuk Singapura. Namun bagaimana kita mengambilnya dan menyebarkannya dalam skala yang lebih besar? Ini akan menghadirkan tantangan yang belum pernah kita lihat sebelumnya. Misalnya, infrastruktur kelistrikan depo bus dirancang untuk beban penerangan, bukan sistem pengisian skala megawatt, sehingga strukturnya membutuhkan perombakan dan investasi modal. Bagaimana kita membayar untuk itu, dan bagaimana itu akan berkelanjutan dan menggunakan teknologi baru yang saling melengkapi seperti energi surya?

Ada banyak hal yang harus dipikirkan, dan secara kolektif di ruangan ini, kami memiliki perwakilan dari teknologi, penelitian, pemerintah, operator, dan asosiasi – kami dapat membuat rencana bersama.

 

 

 

Menyeimbangkan Adopsi EV dengan Kebutuhan Infrastruktur

Seperti yang terlihat di COP26, semua pemerintah seharusnya membuat rencana menjadi netral karbon. Kemungkinan akan menjadi undang-undang bahwa setiap orang harus menghitung seberapa banyak yang mereka konsumsi, dan satu-satunya cara untuk melakukannya adalah dengan komputerisasi semua hal, terutama untuk bisnis.

 

 

Sebagai penyedia layanan, bagaimana menurut Anda?

Alex
Moderator


Chee Kiong

Salah satu model EV terlaris dalam tahun lalu adalah van listrik kecil. Sebagian besar pengemudi van ini tinggal di perumahan umum, HDB. Jadi, sementara beberapa pengemudi memarkir van semalaman di lokasi perusahaan, sebagian besar membawa pulang van mereka. Oleh karena itu, berinvestasi dalam pengisi daya EV di HDB akan menjadi kuncinya. Kita perlu memahami seluruh ekosistem dan berinvestasi di segmen tertentu terlebih dahulu.

Ada konvergensi besar antara daya dan TI yang dapat membantu mengatasi banyak tantangan seputar penggunaan EV. Ketika orang merancang gedung atau tempat parkir di masa lalu, mereka tidak pernah membayangkan perlunya infrasturktur pengisian EV. Sumber daya listrik di gedung rata-rata tidak akan memiliki pemutus arus yang cukup jika kita menginginkan 15% dari lot di setiap tempat parkir memiliki pengisi daya EV. Ini adalah tantangan infrastruktur yang besar bagi Singapura. Dan pemerintah sedang mencoba untuk mengatasinya di banyak bidang, di situlah teknologi dan AI dapat berperan.

Monopoli oleh pengemudi EV yang tidak pengertian adalah tantangan lain. Misalnya, kendaraan selesai mengisi daya dalam 3 jam, tetapi mobil terus menempati tempat parkir. Pengisi daya sekarang tersedia, tetapi tempat parkir mobil tidak memiliki ruang untuk mengakses port pengisian daya. Monopoli mengurangi pemanfaatan aset dan menciptakan masalah. Untuk mengatasi monopoli, kita dapat menggunakan perangkat lunak dan TI untuk mengubah perilaku dan mendorong penjadwalan dan reservasi yang cerdas. Masalah monopoli menghadirkan peluang bagi Hitachi dan perusahaan lain karena ada perangkat lunak yang terlibat – termasuk AI. Charge+ sedang mengerjakan beberapa perangkat lunak ini dan akan meluncurkannya secara bertahap dalam enam bulan mendatang.

Alex

Mempertimbangkan semua masalah yang disebutkan Chee Kiong, apa yang Anda lihat seputar pengisian dan adopsi EV dari sudut pandang asosiasi?


Paul

Mempertimbangkan semua masalah yang disebutkan Chee Kiong, apa yang Anda lihat seputar pengisian dan adopsi EV dari sudut pandang asosiasi?

Visi 2040 kami yaitu, setiap kendaraan di Singapura 100% listrik. Berapa banyak terawatt-jam energi yang dibutuhkan setiap tahun untuk semua kendaraan itu? Bagaimana kami menyediakan daya yang cukup untuk kendaraan tersebut sepanjang tahun jika setiap orang mengemudi dengan cara yang sedikit berbeda? Bagaimana kita mencocokkan titik pengisian dengan pengemudi yang sebenarnya?

Kita perlu pemahaman yang lebih baik mengenai bagaimana seluruh sistem bekerja bersama karena kita tidak hanya berbicara tentang distribusi listrik, namun juga tentang pembangkit energi. Singapura bergerak menuju sumber energi terbarukan. Energi terbarukan diketahui terputus-putus, tidak konstan, yang akan menciptakan tantangan. Kita harus bisa berkolaborasi dan mencari peluang untuk optimasi.

Masa depan teknologi EV dan peran AI

 

Ada banyak pemain di ruang ini: dari daya ke lokasi, ke sistem, ke blok, ke jaringan, ke perangkat lunak, penyedia layanan dan bahkan FinTech.

Apakah kita memiliki cukup pemain untuk mulai bekerja?

Alex
Moderator


Paul

Saya pikir perlu ada investasi lebih lanjut dalam pengembangan teknologi dan penelitian, dan perluasan orang yang bekerja di berbagai bidang ini untuk bekerja sama. Kami memiliki cukup banyak orang untuk memulai, pastinya.


Mark

Kami memiliki semua pemain yang tepat yang berkumpul di seluruh rantai nilai seperti operator pengisian daya, OEM otomotif, OEM peralatan pengisian daya untuk memulai transisi EV kami. Saat adopsi EV meningkat, kita juga perlu mempertimbangkan bagian lain dari ekosistem di seluruh siklus hidup EV, seperti pasar akhir untuk mempertahankan populasi EV dan infrastruktur pengisian daya dan akhir masa pakai baterai EV untuk memastikan pembuangan atau penggunaan kembali yang tepat.

Alex

Ada peluang bagi seseorang untuk mengembangkan perangkat lunak AI guna membantu menavigasi stasiun pengisian dan menemukan biaya termurah. Kembali ke Lounell, bagaimana masa depan teknologi EV?


Lounell

Saya pikir masa depan teknologi EV sangat cerah. Titik pengisian dapat memiliki fungsi tambahan seperti mengumpulkan data tentang baterai, kendaraan, profil pelanggan, atau cara mereka menggunakan terminal. Data ini sangat penting untuk memprediksi secara akurat permintaan pengisian dan penggunaan energi dan profil pelanggan yang paling mungkin untuk mendorong penjualan EV.

Dari sudut pandang pengguna EV, mereka masih khawatir menggunakan kabel jenis colokan pengisi daya yang tidak dikenal. Jika semua kabel serupa, itu akan membuat mereka lebih percaya diri saat mengisi daya. Bahkan, pengisian nirkabel mungkin menjadi solusi yang layak untuk masalah ini. Kekhawatiran lain adalah mengetahui di mana titik pengisian berikutnya dan memberikan informasi yang cukup kepada pelanggan untuk membawa mereka ke tempat tujuan. Teknologi semacam itu harus memberikan wawasan dan saran yang dapat ditindaklanjuti oleh pengguna.

Bahkan, EV bergantung pada kapasitas kinerja baterai kendaraan. Jadi, kita akan melihat banyak inovasi dalam baterai – mulai dari desain, pemantauan dan diagnosis hingga memperpanjang usia baterai. Pada akhirnya, kita akan melihat banyak konvergensi teknologi kendaraan yang memberikan keterhubungan dan otonomi pada kendaraan listrik ini.

Alex

Kami akan beralih ke sisi bisnis. Dari perspektif penyedia layanan, jika pemerintah tidak memberikan hibah, apa yang akan Anda lakukan? Apakah masih layak?


Chee Kiong

Kami ingin menangkap peluang EV di Singapura saat ini. Kami siap melakukan investasi untuk memiliki dan mengoperasikan pengisi daya EV. Hibah akan membantu, tetapi itu bukan prasyarat. Menurut saya, ini adalah permainan jangka panjang.


Paul

Hal-hal seperti hibah bukanlah enabler, tetapi mereka adalah akselerator. Mereka memungkinkan pasar untuk memulai dengan cepat.

Alex

Hal tersebut merupakan poin yang bagus. Apakah menurut Anda, investor eksternal akan mendorong adopsi lebih cepat?


Nirupa

Saya setuju dengan apa yang dikatakan sebelumnya. Kami di sini bukan untuk hibah. Hibah akan membantu adopsi EV awal, teknologi yang ditingkatkan, kasus penggunaan, dan hal- hal semacamnya. Tetapi pada akhirnya, yang perlu terjadi adalah teknologi komersial harus layak secara komersial untuk mendorong adopsi pasar. Kendaraan Listrik dan Biaya Infrastruktur Pengisian Daya akan turun – dan investasi serta pengembangan yang berkelanjutan dalam inovasi teknologi akan membantu menurunkan biaya lebih jauh lagi.


Mark

Sangat menggembirakan bahwa kami melihat dan membaca permintaanya. Tanpa tunduk pada disiplin pasar, kita tidak akan mendapatkan sinyal yang kita butuhkan. Seperti yang dikatakan Paul, hibah lebih merupakan akselerator. Kami ingin menambahkan sedikit bahan bakar sampai mencapai kecepatan tertentu. Keamanan yang baik, peraturan yang baik, dan standar yang baik – begitulah cara kami menumbuhkan ekosistem.

Alex

Saya akan beralih ke pertanyaan terakhir saya. Kami memiliki banyak suku cadang dan komponen yang bergerak. Apakah kita melihat perlunya peran OEM atau integrator?


Mark

Peran dari National Electric Vehicle Centre adalah melibatkan berbagai bagian ekosistem untuk berkolaborasi, membuat peraturan, dan mengembangkan ekosistem lokal. Namun sementara pemerintah dapat berperan untuk memfasilitasi ini, kita harus bermitra dengan pemangku kepentingan industri untuk meningkatkan kesadaran, mengedukasi, dan mencapai perubahan budaya dan sosial.


Paul

Menurut saya ada ruang individu dan perusahaan untuk bersama-sama mendukung industri secara keseluruhan. Selalu ada peluang yang sama. Investasi dalam teknologi dan inovasi perlu terus dilakukan.

Alex

Ketika kita bergerak menuju transportasi umum yang sepenuhnya menggunakan listrik, menuju ke sana tidak akan mudah – terutama dari infrastruktur dan pola pikir untuk mengatasinya. Namun kita semua dapat sepakat bahwa ini adalah peluang bisnis yang jelas. Salah satu peluang terbesar adalah di lapisan perangkat lunak, yang berarti bahwa R&D akan bekerja sama dengan semua pemangku kepentingan untuk menentukan dan menemukan lebih banyak teknologi yang diperlukan.

 

Mendorong transisi menuju masa depan yang netral karbon akan membutuhkan upaya kolektif dari para pemangku kepentingan. Melalui kreasi kolaboratif dengan pemangku kepentingan utama dalam industri EV, Hitachi bekerja untuk menghadirkan produk yang hemat energi dan berkelanjutan serta solusi digital inovatif mulai dari mesin penggerak, distribusi daya hingga titik pengisian daya. Pembentukan infrastruktur EV yang dapat diakses akan mempercepat adopsi sumber energi berkelanjutan.

*1 Emisi Gas rumah Kaca Dunia tahun 2018 menurut Sektor, Penggunaan Akhir dan Gas, Climate Watch, World Resources Institute, Oktober 2020
*2 Artikel terkait di situs web Inovasi Sosial Hitachi: “EV tidak mudah”

Jika Anda ingin mengetahui lebih lanjut tentang kegiatan di Hitachi Asia Research & Development, silakan kunjungi situs web  kami.

Profil

Chee Kiong GOH

CEO CHARGE+

Goh Chee Kiong merupakan CEO Charge+, penyedia solusi pengisian kendaraan listrik terkemuka untuk Singapura dan sekitarnya. Sebagai perpanjangan tangan mobilitas ramah lingkungan Sunseap Group, Charge+ dengan cepat meningkatkan infrastruktur pengisian daya kendaraan listrik untuk merilis target perusahaan 10.000 titik pengisian daya di Singapura pada tahun 2030.

Pada bulan September 2012, konsorsium yang dipimpin Charge+ muncul sebagai pemenang tender infrastruktur pengisian EV pertama pemerintah Singapura. Dimulai di Dewan Pengembangan Ekonomi (Singapura Singapore Economic Development Board), yang mengkhususkan diri dalam teknologi bersih (cleantech) selama dua dekade, Chee Kiong bertanggung jawab atas banyak inisiatif keberlanjutan nasional. Chee Kiong telah lama menjadi advokat dalam bidang teknologi bersih dan berkelanjutan, dengan beberapa penghargaan seperti Medali Administrasi Publik (Perunggu) untuk layanan publiknya dan duduk di dewan Energy Studies Institute (ESI).

Mark TAN

Deputy Group Director
Pengembangan Teknologi dan Industri
Land Transport Authority (LTA), Singapore

Mark mengepalai National Electric Vehicle Centre di LTA Singapura. Mark merangkap jabatan sebagai Director, Futures and Transformation di Kementerian Perhubungan.

Didirikan pada Maret 2021, NEVC berfungsi sebagai kantor program satu atap untuk mendorong adopsi EV melalui perencanaan infrastruktur pengisian EV, menetapkan peraturan dan standar, dan mengembangkan industri EV yang dinamis dan ekosistem penelitian. Mark sebelumnya bekerja di berbagai bidang pemerintahan sebagai diplomat perdagangan, perencana kota, dan pengorganisir komunitas.

Paul WELSFORD

Wakil Presiden
Electric Vehicle Association of Singapore (EVAS)

Paul merupakan Wakil Presiden Electric Vehicle Association of Singapore (EVAS). Dalam masa jabatan keduanya sebagai Wakil Presiden dan anggota pendiri organisasi, Paul bekerja sama dengan Presiden dan seluruh komite untuk mendukung percepatan penyerapan Kendaraan Listrik di Singapura. EVAS berperan untuk mempromosikan penggunaan Kendaraan Listrik, membuat platform untuk standarisasi dan komunikasi di antara berbagai bagian ekosistem EV, dan bermitra dengan industri untuk mendukung kebijakan pemerintah yang sedang berlangsung.

Paul lulus dengan gelar BEng dalam Desain Produk dan Manufaktur dari Loughborough University, Inggris. Paul telah tinggal di Singapura sejak tahun 2014 dan mulai menyelenggarakan acara sosial bagi penggemar EV pada 2016.

Alex LIN, Ph.D.

Wakil CEO NTUitive dan
Board Director of Action Community for Entrepreneurship (ACE)

Alex merupakan seorang pembangun ekosistem inovasi yang membantu membangun ekosistem start-up dan inovasi di berbagai negara. Alex, saat ini adalah CEO sementara NTUitive. Alex sebelumnya adalah kepala dana ventura pemerintah senilai USD200 juta di bawah Infocomm Development Authority (IDA). Sejak tahun 2014, Alex telah mendanai lebih dari 380 start-up dan mempercepat lebih dari 170 start-up ke seri-A. Upaya besar-besaran ini mendorong ekosistem start-up teknologi Singapura dari peringkat 17 ke peringkat 10 dalam waktu dua tahun dan berkontribusi pada negara atas maraknya start-up yang sekarang dinikmati semua orang.

Nirupa CHANDER

Direktur Utama
Hitachi Energy - Singapore

Nirupa merupakan Country Managing Director – Singapura dan Marketing & Sales Function di Singapura untuk Hitachi Energy (sebelumnya Hitachi ABB Power Grids) sejak tahun 2019. Selain itu, Nirupa memimpin inisiatif Top Line Synergies untuk Asia Selatan sebagai bagian dari kegiatan kami dengan grup Hitachi yang lebih luas. Nirupa bergabung dengan ABB Power Grids pada tahun 2009 di Australia setelah lima tahun di BHEL, India. Nirupa memegang peran kepemimpinan operasi dan penjualan di ABB Power Grids pada Power Generation, Renewables Integration, and Microgrids. Nirupa pindah ke Singapura pada tahun 2017 untuk memimpin Layanan dan Digital di Asia Tenggara.

Nirupa memiliki gelar di bidang Teknik Elektronika & Komunikasi dari LD College of Engineering (Gujarat, India), dan juga telah menyelesaikan Emerging Leadership Program di Wharton University of Pennsylvania.

Lounell GUETA, Ph.D.

Kepala Peneliti, Pusat Penelitian & Pengembangan,
Hitachi Asia Ltd.

Lounell bertanggung jawab untuk melakukan pengembangan dan menetaskan solusi untuk negara-negara ASEAN. Pekerjaannya saat ini meliputi penciptaan nilai pelanggan di bidang rantai pasokan, logistik, dan keuangan.

Lounell menerima gelar doktor di bidang rekayasa presisi dari Universitas Tokyo. Sekarang Lounell adalah kandidat untuk Master of Business Administration di National University of Singapore. Lounell telah menulis secara mandiri dan kolektif, lebih dari 50 makalah konferensi dan jurnal yang ditinjau oleh rekan sejawat.

Tanggal rilis: Maret 2022

Diproduksi ulang dari artikel asli di < Insights from AI/Analytics: Building EV Charging Infrastructure Through Partnership and Collaboration > dengan izin dari Hitachi Global Research